
TRIBUN-TIMUR.COM - Nasib bergulirnya kembali kompetisi Liga 1 2022/2023 kian tak menemui kepastian setelah Tim Gabungan Independen Pencarian Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan mengeluarkan hasil temuan dan rekomendasinya.
Dari rekomendasi TGIPF Tragedi Kanjuruhan terdapat poin yang menyatakan Liga 1 2022/2023 tak akan diberikan izin secara serta merta jika belum ada perubahan signifikan dalam pengelolaan sepakbola Tanah Air yang lebih baik.
Bahkan dari lampiran rekomendasi TGIPF yang akan diserahkan ke Presiden Jokowi itu dijelaskan bahwa PSSI harus segera menggelar Kongres sebagai salah satu syarat jika Liga 1 maupun kompetisi lainnya di bawah PSSI ingin kembali bergulir dan mendapatkan izin.
Sebelumnya, TGIPF Tragedi Kanjuruhan menyampaikan hasil temuannya melalui jumpa pers yang disiarkan langsung lewat youtube Sekretariat Presiden, Jumat (14/10/2022) sore.
Ketua TGIPF Tragedi Kanjuruhan Mahfud MD pada kesempatan itu hanya menyampaikan sejumlah poin penting.
Terutama kronologi hingga penyebab tewasnya 131 orang.
Namun setelah konfrensi pers tersebut, kemudian disusul dengan adanya lampiran terkait poin-poin penting rekomendasi TGIPF Tragedi Kanjuruhan untuk pengelolaan sepakbola Tanah air.
Ada sembilan poin utama rekomendasi yang dikeluarkan oleh TGIPF sebagai tim yang mewakili Pemerintah Indonesia.
Pada poin keenam disebutkan bawah:
"Untuk menjaga keberlangsungan kepengurusan PSSI dan menyelamatkan persepakbolaan nasional, pemangku kepentingan PSSI diminta untuk melakukan percepatan Kongres atau menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) untuk menghasilkan kepemimpinan dan kepengurusan PSSI yang berintegritas, profesional, bertanggungjawab, dan bebas dari konflik kepentingan."
"Pemerintah tidak akan memberikan izin pertandingan liga sepakbola profesional di bawah PSSI yaitu Liga 1, Liga 2, dan Liga 3, sampai dengan terjadinya perubahan dan kesiapan yang signifikan oleh PSSI dalam mengelola dan menjalankan kompetisi sepakbola di tanah air. Adapun pertandingan sepakbola di luar Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 tetap berlangsung dengan memperhatikan ketertiban umum dan berkoordinasi dengan aparat keamanan."
Hal ini menunjukan bahwa izin pelaksanaan Liga 1 tidak akan segera bergulir begitu saja.
Melainkan Pemerintah Indonesia meminta PSSI segera menggelar Kongres untuk mengubah struktur demi perbaikan sepakbola Indonesia.
Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan menegaskan jatuhnya korban jiwa pada peristiwa tersebut disebabkan tembakan gas air mata.
Pernyataan TGIFF Tragedi Kanjuruhan ini sekaligus membantah pernyataan pihak Kepolisian beberapa waktu lalu.
Ketua TGIFF Tragedi Kanjuruhan Mahfud MD memastikan bahwa gas air mata yang menjadi penyebab utama.
Hal ini disampaikan Mahfud MD saat menggelar konfrensi pers hasil investigas TGIPF yang disiarkan langsung melalui youtube Sekretariat Presiden, Jumat (14/10/2022) sore.
Seluruh hasil dari temuan TGIPF akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo untuk tindak lanjutnya.
Menurut Mahfud MD TGIPF menemukan fakta yang cukup mencengangkan.
Ini berkaitan dengan kronologi kejadian di Stadion Kanjuruhan.
Ia menjelaskan bahwa ada fakta yang cukup mengerikan yang didapatkan oleh timnya.
"Fakta yang kami temukan proses jatuhnya korban jauh lebih mengerikan, kami merekonstruksi dari 33 rekaman CCTV dari aparat," ucap Menko Polhukam itu.
Lebih lanjut saat terjadi chaos banyak diantara penonton mencoba untuk saling menolong.
Namun, mereka yang mencoba menolong pun akhirnya menjadi korban.
"Yang mati dan cacat dan krisis, terjadi karena desak-desakan setelaha adanya gas air mata yang disemprotkan itu penyebabnya," tegasnya.
Saat ini efek dari gas air mata yang digunakan saat Tragedi Kanjuruhan terjadi tengah diteliti oleh BRIN.
"Tapi apapun hasilnya dari BRIN yang terutama disebabkan oleh gas air mata dan itu tidak akan mengubah hasilnya," terangnya.

0 komentar:
Posting Komentar